Setenang apa pikiran kita hari ini.
Setenang apa pikiran kita hari ini.
Selapang apa hati kita pagi ini.
Setentram apa jiwa kita detik ini.
Bila tenang, lapang, dan tentram
Kehidupan hari ini, maka itu karena
Kebaikan yang kita lakukan ikhlas karena Allah SWT
Bila ketenangan , kelapangan dan ketentraman tidak ada pada kita, bahkan kian hari hidup semakin susah dan sempit. Itu bukan karena Allah SWT tidak sayang pada kita. Namun lebih karena maksiat yang kita lakukan sehingga Allah SWT tidak suka akan perbuatan itu.
Ketenangan, kelapangan, dan ketentraman akan lahir dengan cara bersyukur dan selalu berbuat baik: Kepada Allah SWT, kepada manusia, dan kepada alam semesta.
Nabi Yunus AS dipersempit hidupnya karena meninggalkanya dakwah:
وَذَا النُّوْنِ اِذْ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَّنْ نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمٰتِ اَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ
Terjemahan
Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ”Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.”(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 87)
Tafsir Ringkas Kemenag RI
Dan ingatlah kisah Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, karena mereka berpaling dari dirinya dan tidak mau menerima ajaran Allah ketika ia berdakwah kepada mereka. Lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya karena sikapnya yang tidak sabar itu. Lalu ia naik perahu, namun beban perahu yang ditumpanginya terlalu berat sehingga harus ada seorang yang dilemparkan ke laut. Setelah diundi tiga kali, Nabi Yunus yang harus dilemparkan ke laut. Allah segera mendatangkan seekor ikan untuk menelannya. Maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap di dalam perut ikan, di dalam laut, dan pada malam hari dengan kesadaran, “Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim, karena aku marah meninggalkan kaum yang seharusnya dibimbing olehku.”
Penulis : Munahar Kepala SD Muhammadiyah