Disaaat yang lain meng-unggah gambar keluarga, teman, pimpinan dan lain-lain yang memiliki nilai spesial dalam kehidupan, saya ingin mem-posting tulisan hikmah “sandal yang tertata”. Namun, dari judulnya akan menimbulkan beragam pertanyaan, diantaranya apa yang menarik dari kumpulan sandal itu? Toh, derajat sandal juga tidak akan pernah beranjak naik pangkat sampai kiamat sekalipun?
Ya, Anda benar. Sandal tidak akan pernah naik pangkat. Secara realita sandal akan selalu diletakkan di bawah, bagian kaki, terinjak, ia merupakan benteng yang bisa dikorbankan untuk menyelamatkan orang dari kotoran.
Sesungguhnya, dalam konteks ini, yang menjadi persoalan bukanlah letak sandal. (Mengapa? Sebab kalau sandal Anda letakkan di atas kepala, pasti orang yang melihat Anda haruslah miring untuk memastikan Anda sehat). Tapi pada penataan sandal dan siapa yang melakukannya?
Foto sandal yang tertata rapi ini saya ambil siang hari, saat siswa dan guru melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di masjid. Dan yang menata sandal-sandal ini adalah siswa dan guru-gurunya.
Tentunya ini tidak sekedar kebiasaan yang harus dilatih, tapi juga kesadaran yang harus terus diistiqomahkan. Karena, meski hanya sekedar menata sandal, orang yang melakukannya tidak kemudian menjadi rendah dan hina, namun justru menjadi mulia akhlaknya.
Itu artinya, kalau menata sandal yang notabene-nya benda berposisi di bawah saja bisa menjadikan mulia orang yang melakukannya, apalagi menata dan memposisikan manusia yang Allah SWT sendiri memuliakannya. (Kepala SDM 6 Gadung, Surabaya, Munahar)