Mengajar di kelas internasional (International Class Program/ICP) tidak selamanya harus kaku dengan kewajiban penggunaan bahasa Inggris penuh secara konstan. SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya (SD Musix) kini mulai memperkuat pendekatan translanguaging sebagai solusi efektif untuk menghidupkan suasana belajar yang lebih interaktif dan bermakna.
Strategi ini didalami oleh tiga orang guru delegasi SD Musix saat mengikuti workshop yang diselenggarakan oleh Cambridge Center ID110 di Savana Hotel & Convention, Malang, pada 24–26 April 2026 lalu.
Adapun tiga guru delegasi SD Musix tersebut adalah:
- Ustadzah Rizki Handayani, S.Pd. (Guru Kelas 1 ICP 1)
- Ustadzah Meilani Fara Atika, S.Pd. (Guru Kelas 1 ICP 2)
- Ustadz Ramadhana Al Fikri Bin Zahid, S.Pd., Gr. (Guru Kelas 5 ICP)
Mengenal Translanguaging: Bahasa sebagai Jembatan
Dalam sesi workshop tersebut, Dr. Siti Muniroh dari Universitas Negeri Malang (UM) memaparkan bahwa translanguaging adalah strategi pembelajaran yang memberikan ruang bagi siswa untuk menggunakan lebih dari satu bahasa secara fleksibel. Siswa diperbolehkan memadukan bahasa Indonesia, bahasa Inggris, maupun bahasa ibu untuk memahami sebuah konsep.
“Pendekatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk memahami materi dalam bahasa yang paling mereka kuasai, sebelum akhirnya mereka mampu mengekspresikannya kembali dalam bahasa target (Inggris),” jelas Dr. Siti Muniroh.

Bukti Keberhasilan di Kelas
Para peserta, termasuk guru-guru SD Musix, berkesempatan membedah dua model pembelajaran sebagai referensi:
- Model Pertama: Guru memulai materi dengan bahasa Inggris, namun saat diskusi kelompok, siswa diizinkan menggunakan bahasa yang lebih akrab bagi mereka untuk memperdalam pemahaman. Hasilnya, saat presentasi akhir, siswa mampu menyampaikannya dalam bahasa Inggris formal dengan lebih percaya diri.
- Model Kedua: Penggunaan strategi 50:50, yakni kombinasi bahasa Inggris dengan bahasa pendamping yang didukung oleh media pembelajaran yang kuat.
Hasil dari kedua model ini menunjukkan tren positif: siswa menjadi jauh lebih aktif, berani berpendapat, dan tidak merasa terbebani oleh batasan bahasa saat mencoba memahami konsep yang sulit.
Penerapan Terukur di SD Musix
Meski memberikan kelonggaran, SD Musix berkomitmen untuk menerapkan strategi ini secara terukur. Dr. Siti Muniroh menegaskan bahwa keseimbangan bahasa tetap menjadi prioritas utama.
“Boleh sekali menggunakan translanguaging di kelas internasional, namun porsinya harus diperhatikan agar tujuan utama pembelajaran tetap tercapai,” pesannya.
Bagi SD Musix, keikutsertaan dalam pelatihan ini merupakan langkah nyata dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bertaraf internasional. Dengan pendekatan yang lebih adaptif, bahasa bukan lagi menjadi penghalang bagi siswa, melainkan jembatan yang kokoh menuju pemahaman ilmu pengetahuan yang lebih luas.
Kini, kelas-kelas ICP di SD Musix diharapkan menjadi lebih dinamis, di mana setiap siswa memiliki keberanian untuk bereksplorasi tanpa rasa takut salah dalam berbahasa.
Penulis: Rizki Handayani

